|
Studi - Biaya dan Manfaat Finansial
dari Pembalakan Berdampak Rendah
Di Amazon Timur
Analisis oleh :
Thomas P. Holmes, Geoffrey M. Blate, Johan C. Zweede,
Rodrigo Pereira Jr., Paulo Barreto, Frederick Boltz
dan Roberto Bauch
Versi ringkas - PDF format :
| Klik untuk mendownload
Adobe Reader |
: |
 |
| Studi
Biaya dan Manfaat -
Bahasa Indonesia |
: |
 |
Pembalakan Berdampak Rendah di Hutan
Tropis
Pembalakan di daerah tropis yang biasanya dilakukan
dengan cara yang konvensional, menguras potensi kayu
dan juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak
besar pada hutan. Sistem pembalakan berdampak rendah
(RIL) saat ini sedang dikembangkan di Brazil dan di
beberapa negara sebagai tanggapan terhadap keprihatinan
mengenai kelestarian lingkungan dan nilai ekonomis
dari usaha pemanenan tegakan hutan alam tropis. Sistem
RIL menggunakan berbagai teknik pemanenan yang baik
yang mana dapat memperkecil dampak kerusakan hutan,
mengurangi pembuatan jalan angkutan dan jalan sarad,
memperkecil kerusakan tanah dan erosi, mempertahankan
kualitas air, mencegah risiko kebakaran dan mampu melakukan
regenerasi hutan serta menjaga keanekaragaman hayatinya.
Memang belum banyak yang diketahui tentang aspek finansial
dari RIL, dan bukti-bukti yang diperoleh di Amerika
Latin belum konklusif. Namun demikian, data itu menunjukan
bahwa dalam situasi tertentu RIL akan lebih menguntungkan
dari pada pembalakan konvensional. Menjelaskan aspek
finansial dalam RIL adalah penting karena dengan membiasakan
para pembalak akan fakta ini dapat memotivasi mereka
untuk mengubah kebiasaan mereka (demi kepentingan pembalak
sendiri). Ini akan menjamin terpeliharanya kondisi
lingkungan area pembalakan di hutan tropis dan pada
saat yang bersamaan juga memberikan kesempatan bekerja
dan memberi pemasukan bagi perekonomian setempat. Sistem
RIL merupakan bagian integral dari prakarsa sertifikasi
hutan dan bahkan dapat memberikan pilihan kegiatan
biaya rendah untuk mempertahankan sumber karbon dan
manfaat konservasi hutan. Jika kelestarian hutan merupakan
pilihan yang menjanjikan, dampak ekologi pembalakan
kayu harus dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi
yang lebih ekonomis.
Di samping dampak finansial, sistem RIL dapat memberikan
manfaat industri lainnya. Prosedur RIL memperkecil
volume limbah pembalakan saat pemanenan sehingga dapat
meningkatkan suplai kayu dari suatu sumber secara tetap.
Inventarisasi sebelum penebangan terhadap tegakan kayu/hutan
memberikan gambaran pemasaran kepada pemilik dan industri,
hal mana dapat dijadikan dasar untuk menyiapkan kontrak
dengan pengiriman yang telah diketahui volume dari
masing-masing jenis kayu tertentu. Pengawasan inventarisasi
juga membantu dalam mengeliminir penurunan harga dan
kerusakan pada produk yang dapat merugikan perusahan
dengan adanya produksi di pabrik tetapi tidak ada pembeli.
Penebangan pohon dan penggunaan mesin yang teliti akan
meningkatkan keselamatan pekerja yang mana hasilnya
akan menurunkan biaya asuransi dan para pekerja merasa
lebih aman.
Panduan dan teknik RIL bukanlah jawaban yang pasti,
tetapi RIL merupakan teknik pemanenan yang baik dalam
mewujudkan kondisi ekonomi dan biofisika. Model pemanenan
yang dikembangkan oleh FAO merupakan dasar dalam merancang
dan menentukan sistem RIL yang mencakup berbagai kegiatan
berikut :
| • |
Inventarisasi sebelum penebangan dan pemetaan
pohon |
|

Perencanaan yang teliti
dapat memperkecil kerusakan areal dan menghemat
uang |
| • |
Perencanaan jalan dan jalan
sarad sebelum penebangan |
| • |
Pemotongan liana/akar sebelum
penebangan |
| • |
Penentuan arah rebah |
| • |
Penebangan dengan tunggul
yang rendah |
| • |
Efisiensi dalam pemanfaatan
pohon yang ditebang |
| • |
Membangun jalan dan jalan
sarad dengan lebar yang optimum |
| • |
Mengangkat kayu melalui jalan
sarad yang terencana |
| • |
Membangun/membuat TPN/TPK
dengan ukuran yang optimum |
| • |
Memperkecil kerusakan permukaan
tanah dan pembabatan/penebasan |
Lokasi Model di Amazon Brazil
Dalam beberapa tahun terakhir,
Tropical Forest Foundation (TFF) dengan mitranya
dari Brazil Fundacao Floresta Tropical (FFT) telah
mengembangkan dan menerapkan model kegiatan RIL di
beberapa lokasi di sekitar Amazon Brazil dan melatih
beberapa tanaga kehutanan tentang metoda RIL. Antara
tahun 1995 – 1997, FFT mengembangkan
beberapa petak penebangan dengan luas 100 ha di Fazenda
Cauaxi yang terletak di barat daya Paragominas di negara
bagian Para. Sebagian besar kayu olahan di Paragominas
adalah untuk pasar domestik dan sekitar 8 % dari volume
produksi tersebut untuk kebutuhan ekspor. Untuk memenuhi
pasar domestik membutuhkan penebangan 40 – 50
jenis pohon di lokasi ini.
Kegiatan RIL membutuhkan perencanaan
yang tidak terdapat pada pembalakan konvensional.
Antara enam sampai dua belas bulan sebelum penebangan,
tim RIL menginventarisir lokasi penebangan dan memotong
akar/liana yang tumbuh pada pohon yang berpotensi
untuk ditebang. Dengan menggunakan data inventarisasi,
dibuat peta sebaran anakan, pemilihan pohon yang
ditebang, perencanaan jalan sarad dan pemilihan pohon
komersial yang akan ditebang pada pemanenan berikutnya.
Sangat jelas terlihat bahwa pembalakan konvensional
tidak terencana, dan pendekatannya dengan menggunakan
cara “tebang dan tinggal” di mana penebang
pohon dengan seorang pembantu, “berburu kayu”,
untuk mengidentifikasi pohon yang layak tebang. Penebangan
pohon dengan cara konvensional biasanya dibayar berdasarkan
pohon yang ditebang sehingga cenderung meningkatkan
jumlah pohon yang ditebang dan menghasilkan kayu yang
cacat, atau yang jenis dan ukurannya tidak sesuai dengan
permintaan. Penebangan dengan cara yang konvensional
sangat kurang memperhatikan dampak yang terjadi pada
tegakan tinggal.
Tim penyaradan bekerja sendiri terpisah dari tim penebangan
dan mereka tidak saling memberikan informasi yang berguna
seperti lokasi pohon yang akan ditebang. Pencarian
kayu bulat mengakibatkan penggunaan tenaga kerja dan
mesin yang tidak efisien dan menyebabkan kerusakan
yang cukup signifikan pada tegakan tinggal, tanah hutan
dan peralatan untuk penyaradan.
Analisa yang dikemukakan di sini merupakan rangkuman
dari laporan teknis yang lengkap dan rinci yang memberikan
suatu perbandingan biaya dan manfaat dari sistem RIL
dengan sistem CL berskala besar di area perkayuan Paragominas.
Fokus studi adalah perbandingan aspek finansial, operasioanal,
dan teknik RIL dengan sistem CL. Walaupun studi ini
tidak membahas langsung masalah ekologi dan biologi,
namun pengamatan yang dilakukan dapat dijadikan parameter
utama yang efektif untuk produktivitas hutan di masa
depan. Parameter itu menjelaskan keuntungan yang dapat
diperoleh di kemudain hari bila menggunakan system
RIL.
Pelajaran yang dapat diambil
Di Fazenda Cauaxi, rata-rata
penebangan, mencapai 25 m³ (4 sampai 6 pohon) per haktar
dari petak tebangan. Inventarisasi sebelum dan sesudah
penebangan menunjukan bahwa sistem RIL relatif lebih
efektif dalam memperkecil jumlah limbah kayu di hutan
dan di TPN dibandingkan dengan bila menggunakan sistem
CL (Gambar 1). Limbah kayu pada kegiatan CL mencapai
sekitar 24 % dari jumlah volume kayu yang ditebang sedangkan
dengan system RIL hanya 8 %. Pembagian kayu yang lebih
teliti yang digunakan dalam sistem RIL secara relatif
meningkatkan volume pemulihan sekitar 1.1 m³ per ha dibandingkan
dengan sistem CL. Pada kegiatan RIL terjadi koordinasi
yang lebih baik antara tim penebangan dengan tim penyaradan
sehingga dapat meningkatkan volume pemulihan sekitar
0,9 m³ per ha. Pemilihan pohon yang lebih teliti yang
dilakukan oleh tim RIL (termasuk ukuran, jenis dan kerusakan)
menghasilkan penurunan sekitar 1,4 m³ per ha volume
kayu yang ditebang namun tidak pernah dimanfaatkan
oleh pabrik. Pembalakan menimbulkan kerusakan pad tegakan
tinggal. Dengan memotong habis akar-akar/liana, menentukan
arah rebah pohon dan merencanakan denah dari jalan
dan jalan sarad di dalam sistem RIL, akan mengurangi
kerusakan pada pohon komersial di area tegakan tinggal.
Gambar 2 menunjukan, bahwa sistem
RIL memperkecil terjadimya kerusakan yang fatal pada
tegakan tinggal. Untuk setiap 100 pohon yang ditebang
pada petak CL, terjadi kerusakan fatal pada sekitar
38 pohon (komersial atau berpeluang menjadi komersial,
pohon dengan bentuk yang baik dengan dbh 35 cm), sedangkan
dalam petak RIL yang rusak hanya 17 pohon. Kecepatan
pemulihan pada pohon tanaman yang terdapat pada tegakan
tinggal di petak RIL hampir dua kali lipat bila dibandingkan
dengan yang terdapat dalam petak CL. Hasil dari ini
menggambarkan bahwa manfaat ekonomi dan ekologi yang
diperoleh dari tegakan tinggal di dalam petak RIL lebih
baik.
Pembalakan akan menggangu permukaan areal
hutan karena adanya kegiatan alat berat. Jumlah ganguan
pada permukaan areal dipetak CL hampir dua kali lipat
bila dibandingkan dengan RIL. Walaupun sebagian disebabkan
oleh intensitas penebangan yang tinggi pada petak CL,
gangguan pada permukan areal setiap pohon yang dipanen
relatif lebih besar 60 % bila dibandingkan dengan petak
RIL. Alat berat menggangu permukaan areal 10 % pada
petak CL dan 5 % pada petak RIL.
Gambar 3 menggambarkan
perbandingan biaya antara kegiatan RIL dan CL berskala
besar di area perkayuan Paragominas.. Perencanan RIL
dan kegiatan infrastrukturnya meningkatkan biaya awal
sebelum penebangan sampai 170 % dibandingkan dengan
kegiatan CL. Biaya penebangan dan pemotongan pun lebih
besar pada system RIL karena adanya penambahan kegiatan
untuk pengaturan arah rebah dan peningkatan pemulihan
produksi. Namun demikian, perencanaan dengan sistem
RIL tetap akan lebih menguntungkan dan effisien. Pertama,
produktivitas penyaradan dan TPN akan meningkat secara
dramatis dengan sistem RIL sehingga secara relatif
dapat memperkecil biaya sampai dengan 37 % dibandingkan
CL. Kedua, dengan RIL terdapat pemulihan potensi yang
lebih baik pada volume yang dapat diperdagangkan. Hal
mana secara langsung menurunkan biaya perusahaan yang
berkaitan dengan limbah sebesar 78 % dan memperkecil
biaya yang disebabkan sisa tunggul sebesar 16 %. Secara
keseluruhan, biaya per meter kubik pada area perkayuan
ini yang menggunakan sistem RIL diperkirakan menurun
12 % dibandingkan dengan biaya pada sistem CL.
Kesimpulan
Kesimpulan umum dari analisis ini adalah bahwa secara
finansial RIL lebih menguntungkan dibandingkan CL.
Hal ini mengimplikasikan bahwa kepentingan ekonomi
para penebang dapat membantu memperkecil hilangnya
beberapa fungsi ekologi pada hutan tropis sebagai akibat
pembalakan.
Teknik RIL yang baik akan menurunkan kerusakan pohon
pada tegakan tinggal, gangguan pada permukaan areal
akibat penggunaan mesin dan volume kayu yang tertinggal
di hutan. Manfaat ekonomi dan ekologi yang diperoleh
di area bekas penebangan akan lebih besar bila menggunakan
teknik RIL
Satu hal penting yang harus selalu diingat, adalah
bahwa hutan tropis sangat heterogen sifatnya sehingga
pemasaran produknya juga bervariasi. Kesimpulan dari
studi ini mungkin tidak selalu dapat diterapkan pada
area perkayuan lain di Amazon ataupun di tempat lain.
Dengan meningkatnya permintaan dari para pemilik lahan
yang luas dan the Brazilian Federal Environmental Institute
(IBAMA) untuk diselenggarakan pelatihan formal mengenai
RIL, maka uji-coba dan penelitian lebih lanjut mengenai
RIL perlu dilakukan. Hal ini adalah untuk mengevaluasi
bagamaimana variasi tipe hutan, penawaran dan permintaan
pasar, dan besarnya kegiatan pembalakan yang dapat
mempengaruhi desain serta kinerja system RIL secara
optimal. Pengenalan mengenai keadaan yang sesuai adalah
demi kepentingan pembalak sendiri, dan dapat membantu
dalam memperkecil kehilangan fungsi ekologi dari hutan
tersebut sebagai akibat dari tekanan pembalakan. Ini
akan membantu dalam mewujudkan pengelolaan hutan tropis
yang berkelanjutan menjadi kenyataan.
 |
|
Pembalakan Konvensional
Pemanenan tidak terencana dan
menggunakan suatu pendekatan “tebang atau tinggal”,
Penebang kayu kurang memperhatikan dampak yang
terjadi pada tegakan tinggal, dan cara mereka
mencari kayu sangat tidak effisien. |
| |
|
|
 |
|
Pembalakan Berdampak Rendah
Teknik ini dapat mengurangi kerusakan pada tegakan
tinggal, pada permukaan areal karena penggunakan
mesin dan pada volume kayu yang tertinggal di
hutan. |
Tropical Forest Foundation
Tropical Forest Foundation (TFF) adalah
organisasi nirlaba yang berwawasan pendidikan dan berdedikasi
pada konservasi hutan tropis melalui pengelolaan hutan
yang berkelanjutan. TFF sudah dikenal secara luas dalam
membuat model dan menyelenggarakan pelatihan untuk
menjelaskan manfaat serta prinsip-prinsip dari pengelolaan
hutan yang berkelanjutan melalui praktik-praktik Pembalakan
Berdampak Rendah. Dewan Direktur Yayasan ini terdiri
dari tokoh-tokoh di bidang industri, pemerintahan,
ilmuwan, akademik dan organisasi konservasi. Kini TFF
mempunyai program di Brazil, Guyana S.A., Indonesia
dan di kawasan Asia- Pacifik.
Untuk mendapatkan copy laporan yang lengkap tentang
Biaya dan Manfaat Finansial dari Pembalakan Berdampak
Rendah di Amazon Timur silahkan hubungi :
Tropical Forest Foundation - Head Office
225 Reinekers Lane, Suite 770
Alexandria VA, 22314 Phone (703) 518-8834 Fax (703)
518-8974
E-Mail: tff@igc.apc.org
www.tropicalforestfoundation.org
or
Tropical Forest Foundation - Indonesia
Manggala Wanabakti, Block IV, 7th Floor,
Wing B, Room 718
Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270
I N D O N E S I A
Phone (62-21) 573-5589 Fax (62-21)
5790-2925
E-Mail: tff@cbn.net.id
www.tff-indonesia.org
The report can also be downloaded from the CIFOR (www.cifor.org)
or the USDA Forest Service International Programs (www.fs.fed.us/global)
websites.
|