Untuk mendefinisikan penggunaan dan
verifikasi dari RIL, TFF lagi mengembangkan suatu kumpulan
dari kriteria dan indikator yang dapat di pakai di
Asia Tenggara.
Kriteria dan indikator RIL serupa, juga sedang dikembangkan di daerah Amazon, Guyana, Afrika Barat dan Tengah.
Kriteria dan Indikator RIL yang lengkap akan dipublikasikan dalam situs ini segera setelah selesai.
| Prinsip |
Kriteria |
Indikator |
V
e r i f i k a s i |
| Reduced-Impact
Logging dilaksanakan seperti ditentukan dalam TFF – “RIL
Verified” |
| |
1. |
Inventarisasi
sebelum pemanenan, telah dilakukan untuk mengidentifikasi
semua pohon yang akan dipanen dan pohon yang dilindungi
sesuai dengan standar yang diatur dalam sistem
dan administrasi Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI)
atau Tebang Pilih Tanaman Jalur (TPTJ). |
| |
|
1.1 |
Kunjungan
lapangan untuk memverifikasi bahwa inventory telah
dilakukan dan bahwa pohon-pohon diberi label serta
dinomori sesuai dengan peraturan yang berlaku. |
| |
|
|
1.1.1 |
Pengecekan lapangan
harus dilakukan secara berkala di beberapa lokasi. |
| |
|
1.2 |
Perusahaan
telah membuat standar kegiatan cruising termasuk
mengenai pohon mana yang tepat untuk diinventori. |
| |
|
1.3 |
Ringkasan
hasil cruising (LHC) tersedia di seluruh area yang
akan dipanen. |
| |
|
|
|
1.3.1 |
Dokumen harus
menunjukkan bahwa jenis pohon yang dilindungi oleh
hukum di Indonesia dan CITES tidak termasuk dalam
daftar pohon yang akan dipanen. |
| |
2. |
Peta
posisi pohon dan kontur skala operasional dengan
akurasi yang baik tersedia untuk seluruh area yang
akan dipanen. |
| |
|
2.1 |
Perusahaan
memiliki peta kontur dengan skala yang tepat, yang
diperoleh melalui metode remote sensing atau telah
menerapkan prosedur survey dasar yang baik dalam
melakukan pemetaan kontur dan posisi pohon yang
akurat secara rutin. |
| |
|
|
|
2.1.1 |
Skala peta operasional
yang baik adalah tidak lebih dari 1:5000 dengan
interval kontur tidak lebih dari 5 m. |
| |
|
|
|
2.1.2 |
Informasi yang
terdapat pada peta operasional posisi pohon dan
kontur sedikitnya memuat seperti lintasan air baik
yang permanen maupun musiman, kontur, jalan (baik
yang sudah ada maupun yang masih direncanakan),
batas-batas wilayah, tanda-tanda alam yang dapat
mempengaruhi perencanaan pembalakan dan lokasi
seluruh pohon yang dapat dipanen. |
| |
|
|
|
2.1.3 |
Direkomendasikan
agar survey dasar dilakukan dengan menggunakan
jaringan survey yang dapat digunakan untuk orientasi
lapangan. |
| |
|
2.2 |
Tingkat
keakuratan peta harus memadai agar dapat dilakukan
perencanaan jalan sarad yang juga akurat sesuai
dengan kontur, lokasi tanda-tanda alam (misal sungai)
dan informasi lokasi pohon. |
| |
|
|
|
2.2.1 |
Pengecekan lapangan
akan memverifikasi keakuratan peta. Lokasi pohon
harus akurat dalam radius 20m. |
| |
3. |
Batas
wilayah pemanenan harus dibuat di lapangan dan
ditunjukkan di atas peta sesuai dengan peraturan/persyaratan
yang diminta. |
| |
|
3.1 |
Prosedur-prosedur
dalam membuat batas pembalakan harus diuraikan
dengan jelas. |
| |
|
|
3.1.1 |
Pengecekan lapangan
secara random dan representatif memverifikasi keberadaan
batas-batas operasional. |
| |
|
3.2 |
Batas
pemanenan tidak tumpang tindih dengan batas area
yang dilindungi dengan diidentifikasikannya lebih
akurat di peta, baik yang terdapat di dalam maupun
diluar batas konsesi. |
| |
4. |
Perusahaan
memiliki ijin konsesi (IUPHHK) dan ijin penebangan
tahunan (SK RKT) yang masih berlaku. |
| |
|
|
4.1.1 |
Pengecekan dokumen
untuk memverifikasi sahnya dokumen perijinan |
| |
5. |
Rancangan
kegiatan pemanenan dipersiapkan untuk menunjukan
bagaimana perusahaan merencanakan pemanenan yang
akan dilakukan. |
| |
|
5.1 |
Rencana
pemanenan disiapkan pada peta kontur dan posisi
pohon. |
| |
|
5.2 |
Perusahaan
telah mengembangkan standar operasional dan lingkungan
sebagai petunjuk dalam perencanaan dan pembalakan. |
| |
|
|
5.2.1 |
Standar operasional
didalamnya terdapat pertimbangan-pertimbangan kelerengan
maximum jalan sarad, kondisi tanah, lokasi TPN,
dan prosedur penyeberangan sungai. |
| |
|
|
5.2.2 |
Standar lingkungan
didalamnya terdapat kebijakan kelerengan maximum
baik untuk pembalakan ground based, zona riparian,
penyeberangan sungai serta pertimbangan-pertimbangan
yang berkaitan dengan aspek budaya Standar Lingkungan
akan dipublikasi dalam bentuk manual, “Pertimbangan
bagi Perencanaan RIL”. |
| |
|
5.3 |
Perusahaan
telah menunjuk staf yang bertanggung jawab membuat
rancangan pembalakan yang lengkap. |
| |
|
|
5.3.1 |
Rancangan yang
akurat, dimana informasi kontur dan posisi pohon
berhubungan erat dengan standar perencanaan, haruslah
menjadi kegiatan yang rutin. |
| |
6. |
Jalan
sarad dan TPN dikerjakan sebelum kegiatan penebangan
dimulai sesuai dengan standar operasional dan lingkungan. |
| |
|
6.1 |
Perusahaan
telah menunjuk staf yang bertanggung jawab melaksanakan
penetapan lokasi jalan sarad dan TPN secara detil. |
| |
|
|
6.1.1 |
Pengecekan lapangan
memastikan bahwa lokasi jalan sarad dan TPN secara
rutin ditentukan sesuai rencana pembalakan dan
standar-standar yang telah dispesifikasikan. |
| |
|
6.2 |
Peta-peta
diperbaharui dengan menunjukkan lokasi TPN dan
jalan sarad yang actual, bila terjadi perubahan
pada peta sebelumnya. |
| |
7. |
Jalan
sarad dibuka sebelum kegiatan penebangan dimulai
dan sesuai dengan standar operasional dan lingkungan (Pedoman
prosedur operasional yang akan dipublikasikan sebagai
bagian dari proyek ITTO). |
| |
|
7.1 |
Tujuan
dan prosedur pembukaan jalan sarad secara jelas
disampaikan kepada supervisor dan staff operasional. |
| |
|
|
7.1.1 |
Mandor yang bertanggung
jawab atas kegiatan pembalakan harus memiliki peta
yang terbaru dan akurat sebagai panduan dalam kegiatan
pembalakan. |
| |
|
7.2 |
Tersedia
pedoman tekhnis sederhana tentang pembukaan jalan
sarad (akan dimasukkan ke dalam pedoman prosedur
operasional) |
| |
|
|
7.2.1 |
Pengecekan lapangan
memastikan bahwa jalan sarad dan TPN secara rutin
dibuka sebelum penebangan dan bahwa jalan sarad
dan TPN dibangun sesuai dengan standar yang berlaku. |
| |
8. |
Penebangan
dan bucking dilaksanakan sesuai dengan prinsip
dan pedoman RIL (akan dimasukkan ke dalam pedoman
prosedur operasional). |
| |
|
8.1 |
Para
penebang telah diberi petunjuk mengenai bagaimana
kriteria2 pengambilan keputusan dalam kegiatan
mereka melakukan penebangan langsung. Termasuk
didalamnya adalah tingkat keselamatan, kesesuaian
dengan jalan sarad, lokasi dengan pemanenan berikutnya
dan dengan pohon-pohon yang dilindungi dan pohon
inti, tinkat pemulihan/recovery pohon yang ditebang,
dan memperkecil patah pada saat penebangan. |
| |
|
|
|
8.1.1 |
Apakah para penebang
memiliki buku saku yang berisi informasi perhitungan
dasar penebangan dan bucking? |
| |
|
8.2 |
Para
penebangan dilengkapi dengan perlengkapan dasar
keselamatan dan alat-alat yang memadai untuk melakukan
penebangan langsung. |
| |
|
|
|
8.2.1 |
Para penebang dilengkapi
dengan alat pengaman dasar (topi/helm) serta perlengkapan
penebangan lainnya seperti baji. |
| |
|
|
8.3 |
Perusahaan
memiliki kebijakan yang jelas serta tertulis mengenai
standar pemanfaatan dan bucking. Kebijakan ini
harus menyebutkan batas maksimum kerusakan yang
bisa ditolerir, panjang kayu bulat dan jenis-jenis
apa saja yang dikehendaki. |
| |
9. |
Penyaradan
dilakukan sedemikian rupa guna menekan kerusakan
tanah dan tegakan tinggal. |
| |
|
9.1 |
Perusahaan
mengeluarkan petunjuk operasional kepada operator
traktor untuk memastikan agar mesin tetap berada
di jalan sarad dan memaksimalkan winching. |
| |
|
|
9.1.1 |
Jika kayu bulat
berada sekitar 20m dari jalan sarad, harus ditarik
dengan menggunakan winch, kecuali jika posisinya
sulit sehingga tidak memungkinkan memasukan sling
ke kayu log atau jika ada rintangan yang menghalangi
winching langsung. |
| |
|
9.2 |
Operator
traktor tidak akan membangun jalan sarad baru yang
tidak diberi tanda di lapangan tanpa pembicaraan
sebelumnya dengan mandor. |
| |
|
|
|
9.2.1 |
Tidak dibenarkan
adanya jalan sarad berpotongan atau ganda. |
| |
10. |
Perusahaan
harus memiliki kebijakan yang jelas mengenai deaktivasi
TPN dan jalan sarad untuk meminimalisir resiko
erosi. |
| |
|
10.1 |
Pedoman
deaktivasi untuk jalan sarad harus menjelaskan
bagaimana dan kondisi seperti apa sudetan harus
dibuat. |
| |
|
10.2 |
Sudetan
pada jalan sarad merupakan bagian dari pekerjaan
seorang operator traktor. |
| |
|
|
|
10.2.1 |
Pengecekan lapangan
harus dilakukian untuk memastikan bahwa sudetan
dan deaktivasi TPN dilakukan sesuai standar perusahaan. |
| |
11. |
Monitoring
dan evaluasi setelah pemanenan dilakukan dengan
maksud agar evaluasi terhadap diri sendiri terus
menerus dilakukan dan sebagai umpan balik kepada
pihak manajemen atas penerapan RIL. |
| |
|
11.1 |
Monitoring
dan evaluasi yang telah dilakukan sebagai tugas
serta tanggung jawab pekerjaan dan dari staf yang
cakap yang telah diberi petunjuk bagaimana kegiatan-kegiatan
ini dilakukan. |
| |
|
|
11.1.1 |
Tugas-tugas ini
dapat ditambahkan dalam tugas dan tanggung jawab
mandor atau petugas baru yang ditunjuk sebagai “pengawas
block”. |
| |
|
11.2 |
Monitoring
rutin di lapangan dilaksanakan selama pembalakan
untuk memastikan apakah tujuan RIL telah dicapai. |
| |
|
11.3 |
Prosedur
evaluasi setelah pemanenan yang telah diterapkan,
yang menilai bagaimana tujuan RIL dapat dicapai
dan melaporkannya kepada manajemen. |
| |
|
|
11.3.1 |
“Catatan
blok” tersedia. Laporan ini harus memuat
seluruh aspek dan persyaratan pembalakan maupun
deaktivasi serta harus melaporkan hal-hal yang
berkaitan dengan pemanfaatan. Peta yang mengindikasikan
area yang dibalak sebaiknya disertakan. |
| |
12. |
Manajemen
telah memiliki kebijakan-kebijakan, pedoman dan
personel yang memadai untuk memastikan bahwa seluruh
aspek kegiatan jelas atau perlu modifikasi sehingga
penerapan praktek RIL menjadi kenyataan. |
| |
|
12.1 |
Kebijakan
dan pedoman perusahaan untuk inventori, perencanaan
dan personel-personel operasional disebutkan pada
tujuan-tujuan RIL dan secara jelas menginformasikan
tanggung jawab masing-masing individu. |
| |
|
|
12.1.1 |
Terdapat standar
operasionial prosedur dan / atau kebijakan yang
menguraikan berbagai elemen system RIL. |
| |
|
|
|
|
12.1.2 |
Terdapat uraian
tugas dan tanggung jawab yang memperlihatkan integrasi
fungsi dan tanggung jawab. |
| |
|
|
12.2 |
Personel
yang telah dipiih, dilatih dan diberi petunjuk
yang memadai agar kegiatan RIL dapat dilaksanakan
secara efektif. |